Buat yang kini merajai hatiku,
Terima kasih, untuk sejenak kebahagiaan yang kemarin telah kau ciptakan. Juga untuk sebentuk asa yang hari ini telah kau hancurkan. Haruskah kau kutinggalkan?
Katakan jika tak lagi dirimu menyayangku! Atau bahkan jika ada yang lain menyandingmu! Jangan pernah beranggapan tunjukkan sifat liarmu kan buatku membencimu. Karena, aku masih terlalu ingin menyayangmu.
Aku terlalu menyayangmu. Tak mungkin jiwa ini berpaling dari ujud kasar ragamu. Bahkan sekedar tak menoleh ketika aku mencoba berlaripun, tak pernah mampu aku lakukan. Kamu adalah jiwa yang merajai alam pikirku, yang menguasai puing harapku, yang memiliki seluruh asa dan pengharapanku.
Jika kau berfikir meninggalkanku akan membuatku berhenti mencintaimu, salahkan pikirmu! Aku tak sekedar menyayangmu saat kau permata dalam noda harimu, tak sekedar inginkanmu saat jiwamu menangis dalam pelukku. Tapi lebih dari itu, aku menyayangmu karena jiwa yang rapuh ketika hidup kan coba belokkan langkahmu. Aku merindukanmu saat kau terasing dalam sudut harimu.
Izinkan aku sekedar tunjukkan pada setiap lembar waktumu, bahwa kau mampu menjadi seperti apa yang mereka mau. Atau setidaknya biarkan jiwa ini kembali hangati jiwamu.
Aku percaya akan kemampuanmu, bahkan melebihi dari sekedar apa yang orang lain nilai darimu. Percayalah, kau akan menjadi seperti apa yang mereka mau. Tunjukkan pada dunia, dirimu bukan batu. Dirimu mampu!
Kamis, 15 November 2007
Buat yang kini merajai hatiku,
Terima kasih, untuk sejenak kebahagiaan yang kemarin telah kau ciptakan. Juga untuk sebentuk asa yang hari ini telah kau hancurkan. Haruskah kau kutinggalkan?
Katakan jika tak lagi dirimu menyayangku! Atau bahkan jika ada yang lain menyandingmu! Jangan pernah beranggapan tunjukkan sifat liarmu kan buatku membencimu. Karena, aku masih terlalu ingin menyayangmu.
Aku terlalu menyayangmu. Tak mungkin jiwa ini berpaling dari ujud kasar ragamu. Bahkan sekedar tak menoleh ketika aku mencoba berlaripun, tak pernah mampu aku lakukan. Kamu adalah jiwa yang merajai alam pikirku, yang menguasai puing harapku, yang memiliki seluruh asa dan pengharapanku.
Jika kau berfikir meninggalkanku akan membuatku berhenti mencintaimu, salahkan pikirmu! Aku tak sekedar menyayangmu saat kau permata dalam noda harimu, tak sekedar inginkanmu saat jiwamu menangis dalam pelukku. Tapi lebih dari itu, aku menyayangmu karena jiwa yang rapuh ketika hidup kan coba belokkan langkahmu. Aku merindukanmu saat kau terasing dalam sudut harimu.
Izinkan aku sekedar tunjukkan pada setiap lembar waktumu, bahwa kau mampu menjadi seperti apa yang mereka mau. Atau setidaknya biarkan jiwa ini kembali hangati jiwamu.
Aku percaya akan kemampuanmu, bahkan melebihi dari sekedar apa yang orang lain nilai darimu. Percayalah, kau akan menjadi seperti apa yang mereka mau. Tunjukkan pada dunia, dirimu bukan batu. Dirimu mampu!
Hari ini lagi-lagi tak kau izinkan aku mendambamu
Tak kau biarkan hatiku menyentuh hatimu
Bahkan tanpa berkata kau coba tuk lagi merobek lukaku
Meski perih tanpa simpatimu
Kucoba bertahan menahan guguran asaku
Kau bertahan dengan keangkuhanmu
Serta dengan seluruh ego yang merajai jernih pikirmu
Begitu yakin kau bahwa tak kan ada restu teriring untukmu
Tuk sejenak saja menyandingku
Padahal jiwa ini tetap dan selamanya menginginkanmu
Walau sebesar apa aral menghadang langkahku
Aku ingin sekejap saja wujudkan impian terbesar dalam hidupku
Aku ingin bersamamu
Yakinkanlah dirimu
Jiwa ini senantiasa inginkanmu
Rindu ini kekal mendambamu
AKU TETAP MENCINTAIMU SAMPAI KAPANPUN JUA
Terima kasih untuk sebentuk harap yang telah kau cipta
Pula untuk secuil asa yang kau jaga
Tulus cinta goyahkan rasa
Ingin jiwa ini menyandingmu segera
Aku memang bukan peri yang buatmu bahagia
Bukan pula malaikat dengan sepasang sayapnya
Aku hanya ranting kecil di hutan belantara
Yang mana kan segera remuk tubuhku jika pengorbananmu berkuasa
Bukan salahmu jika cinta memaksamu korbankan semua
Mulai dari asa, cita juga cinta
Namun sayang,
Pengorbananmu selamanya kan sia-sia
Karena cinta ini tak pernah kan terganti oleh apapun jua
Maafkan aku untuk secuil rasa yang tak jua sirna
Tak pernah kuharap cinta ini mekar adanya
Karena ku yakin dalam hatimu bukan diriku yang bersahaja
Kini kumiliki jiwa kosongmu dalam lembar sepi
Mengganti butir-butir asa yang tak pernah pasti
Hadirkan sejenak kenangan tentang semua yang telah terjalani
Termasuk,
Untuk dosa yang tak pernah disadari
Khilafku goyahkan keyakinanku
Menyeretku ketika ingin aku sekedar sadarkanmu
Dan kini semua tlah tertempuh
Tanpa pernah bisa aku berlari menjauh
Kini tinggal cinta yang kan memaksamu segera
Pergi atau temani hingga ajalku tiba
Dan jika masih boleh aku berkata
“AKU TETAP MENCINTAIMU SAMPAI KAPANPUN JUA”
KARENA AKU MENCINTAIMU
Terlalu lama kau menghilang
Terlalu indah anganmu terkenang
Kini kau datang
Setelah sekian lama rinduku terpendam.
Ujudmu nyata sebentuk rupa
Pancarkan kembali kilau pesona
Namun hanya tanya yang nyata dengan kata,
“Mencintaiku? Pantaskah?”
Mengenangmu adalah hal tersulit
Dan mendambamu adalah kenyataan yang pahit.
Tapi inilah wujud kuasa jiwamu
Yang senantiasa menyihirku dengan auramu
Walau bukan ujud simpatik yang muncul di hadapku
Tapi sungguh, aku mencintaimu.
Izinkan rasa ini mekar kembali!
Izinkan hati ini memimpikanmu lagi!
Dan biarkanlah asa ini mekar mewangi!
Karena aku mencintaimu
Karena aku meninggikanmu
Itulah mengapa aku berani mendambamu
Maafkan aku jika cintaku terlalu tinggi
Maafkan aku jika hasratku membuatmu ingin pergi
Tapi kali ini kupinta jangan pergi
Apalagi berhasrat untuk tinggalkanku sendiri
Tak sanggup aku tanpamu
Tak bisa aku jauh darimu
Bersamamu, adalah impian terbesar hidupku
Karena aku mencintaimu
TERLALU MENCINTAIMU
Untuk sebuah kesalahan yang tak pernah kau maafkan,
Untuk sebuah hati, yang tak pula mungkin kau pernah sanggup tuk pahami
Bukan untuk sebuah permintaan
Bukan pula permohonan akan kesanggupan
Mungkin tak pernah dirimu kan mengerti
Bahkan percaya pun mustahil adanya
Tapi inilah kenyataan
Inilah pernyataan
Tentang hati yang pernah milikimu
Inilah kesaksian
Pencurahan serta pengakuan beribu dosa
Sebelum, ketika, dan setelah hatimu terpilih
Maaf bila aku terlalu mimpikanmu
Maaf bila aku terlalu mendambamu
Namun andai kau tahu,
Jiwamu pantaslah memang untuk terkagumi
Nuranimu dapatlah memang untuk sekedar dipuji
Tapi mungkin dirimu takkan pernah izinkan
Karena keangkuhanmu tak pernah bisa luluskan
Inilah kesombongan
Keangkuhan
Tapi itulah sebabnya hatimu kucintai
Itulah mengapa jiwamu kusayangi
Bukan karena ketulusanmu
Bukan kebaikan
Bukan pula pengorbananmu
Maaf jika jiwa ini pernah melukaimu
Maaf jika hati ini pernah menyakitimu
Mungkin juga akan semua ucapku
Yang telah tega menusuk perasaanmu
Khilafku lakukan itu
Bukan kesengajaan
Percayalah!
Semua terlakukan untukmu
Hanya sekedar ingin agar tak hancur jiwamu karenaku
Karena aku, sungguh tak pernah pantas menyandingmu
Dan kini,
Sungguh tak pernah aku ingin kau tahu
Air mata telah menetes di pipiku
Namun tak pernah aku pandai berpura
Di depanmu,
Mampu kau baca isi hatiku
Percuma sumpah itu
Percuma keinginan tuk terlihat tegar di depanmu
Nyata diriku rapuh
Nyata hatiku menangis
Juga teriris saat kau menyandingnya
Sabarkanlah hatiku
Kuatkanlah
Seperti ketika pertama asa ini menerimamu
Maaf,
Aku masih terlalu mencintaimu
TERLALU MENCINTAIMU
Untuk sebuah kesalahan yang tak pernah kau maafkan,
Untuk sebuah hati, yang tak pula mungkin kau pernah sanggup tuk pahami
Bukan untuk sebuah permintaan
Bukan pula permohonan akan kesanggupan
Mungkin tak pernah dirimu kan mengerti
Bahkan percaya pun mustahil adanya
Tapi inilah kenyataan
Inilah pernyataan
Tentang hati yang pernah milikimu
Inilah kesaksian
Pencurahan serta pengakuan beribu dosa
Sebelum, ketika, dan setelah hatimu terpilih
Maaf bila aku terlalu mimpikanmu
Maaf bila aku terlalu mendambamu
Namun andai kau tahu,
Jiwamu pantaslah memang untuk terkagumi
Nuranimu dapatlah memang untuk sekedar dipuji
Tapi mungkin dirimu takkan pernah izinkan
Karena keangkuhanmu tak pernah bisa luluskan
Inilah kesombongan
Keangkuhan
Tapi itulah sebabnya hatimu kucintai
Itulah mengapa jiwamu kusayangi
Bukan karena ketulusanmu
Bukan kebaikan
Bukan pula pengorbananmu
Maaf jika jiwa ini pernah melukaimu
Maaf jika hati ini pernah menyakitimu
Mungkin juga akan semua ucapku
Yang telah tega menusuk perasaanmu
Khilafku lakukan itu
Bukan kesengajaan
Percayalah!
Semua terlakukan untukmu
Hanya sekedar ingin agar tak hancur jiwamu karenaku
Karena aku, sungguh tak pernah pantas menyandingmu
Dan kini,
Sungguh tak pernah aku ingin kau tahu
Air mata telah menetes di pipiku
Namun tak pernah aku pandai berpura
Di depanmu,
Mampu kau baca isi hatiku
Percuma sumpah itu
Percuma keinginan tuk terlihat tegar di depanmu
Nyata diriku rapuh
Nyata hatiku menangis
Juga teriris saat kau menyandingnya
Sabarkanlah hatiku
Kuatkanlah
Seperti ketika pertama asa ini menerimamu
Maaf,
Aku masih terlalu mencintaimu